Tembaga berhasil menyentuh level tertinggi sejak delapan bulan terakhir. Hal ini terjadi setelah Amerika Serikat dan China menandatangani kesepakatan awal dalam sengketa perdagangan. Kesepakatan tersebut sukses meningkatkan harapan untuk kebangkitan permintaan logam dunia.

Tercatat, harga tembaga kontrak tiga bulanan di London Metal Exchange menguat 1,48 persen di titik US$ 6.290 per metrik ton. Padahal, sebelumnya hanya mampu menduduki posisi US$ 6.198 per metrik ton.

Dilaporkan pula, impor tembaga China bulan Desember 2019 lalu mengalami kenaikan sebesar 9,1 persen dari bulan sebelumnya menjadi 527.000 ton. Nilai ini merupakan yang tertinggi sejak Maret 2016 lalu. Berdasarkan data bea cukai China, kenaikan terjadi karena meningkatnya aktivitas pabrik dan berkurangnya pasokan logam bekas sehingga mengangkat permintaan tembaga.

Sementara itu, impor biji tembaga dan konsentratnya mencapai 1,93 juta ton pada Desember lalu. Angka ini mengalami penurunan sebesar 10,5 persen dari rekor di November 2019 yang mencapai angka 2,16 juta ton. Harga tembaga dilaporkan kembali jatuh jelang rilis data ekonomi China, yakni di level US$ 6.277,5 per metrik ton. Nilai ini melemah 0,15 persen dibanding hari sebelumnya.

Faktor Penekan Harga Tembaga

pixabay.com

 Pertumbuhan ekonomi melambat

 Melemahnya harga tembaga ini menjadi sinyal, bahwa ekonomi China di tahun 2019 lalu cenderung melambat. Padahal, China merupakan pengguna tembaga terbesar dan komoditas logam industri lainnya. Meski belakangan data ekonomi dan manufaktur China mulai bergerak ke arah yang lebih baik, namun pasar masih ragu bahwa China bisa bangkit dan mencetak kinerja terbaiknya di sepanjang 2019 lalu.

Hasil konsensus Reuters menyebutkan, pertumbuhan ekonomi China telah mengalami kontraksi lantaran diproyeksi hanya tumbuh sekitar 0,6 persen saja. Padahal pada tahun 2018 lalu, negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut mampu tumbuh 6,6 persen. Bila prediksi tersebut tepat, maka hal itu menjadi pergerakan pertumbuhan tahunan terlemah dari China sejak tahun 1990.

Pembatasan impor

 Selain pertumbuhan ekonomi China yang melemah, faktor lain dari penekan harga tembaga ini adalah pembatasan impor. Hal ini juga berlaku untuk sisi penawaran yang turut terganggu. International Copper Study Grup (ICSG) bahkan melihat sedikit defisit pasokan sekitar 1% dari total permintaan.

Namun, China tidak tinggal diam dan tetap menginginkan harga tembaga kembali menguat. Pemerintah China telah mengumumkan langkah-langkah baru untuk merangsang kegiatan perekonomian yang salah satunya mempercepat pembiayaan infrastruktur.

Harga Patokan Ekspor (HPE) Pertambangan Periode Januari 2020

pixabay.com

Tak bisa dipungkiri, fluktuasi harga internasional mempengaruhi penetapan harga patokan ekspor atau HPE produk pertambangan yang dikenakan bea keluar pada periode Januari 2020 ini.

Banyak komoditas mengalami kenaikan

Jika dibandingkan dengan HPE periode Desember 2019, maka bisa disimpulkan bahwa sebagian besar komoditas mengalami kenaikan yang signifikan. Ketentuan ini terdapat dalam Peraturan Menteri Perdagangan No. 95/2019, tanggal 26 Desember 2019.

Ketentuan tersebut mengatakan bahwa, HPE beberapa produk pertambangan mengalami kenaikan dan penurunan yang disebabkan fluktuasi harga internasional. Produk yang mengalami kenaikan meliputi, konsentrat tembaga, konsentrat ilmenite, konsentrat rutil, konsentrat besi, dan bauksit.

Sementara itu, sejumlah produk pertambangan yang dikenakan bea keluar adalah konsentrat tembaga, konsentrat pasir besi, konsentrat besi. Tercatat pula konsentrat besi laterit, pellet konsentrat pasir besi, konsentrat timbal, konsentrat mangan, konsentrat seng, dan bauksit yang telah dilakukan pencucian.

Asian Metal dan Iron Ore Fine Australian menjadi sumber utama perhitungan harga dasar HPE untuk komoditas, di antaranya konsentrat besi. Sementara konsentrat tembaga, konsentrat timbal, konsentrat seng, pellet konsentrat pasir besi, dan bauksit bersumber dari London Metal Exchange (LME).

Tembaga mengalami kenaikan signifikan

Jika dibandingkan dengan periode sebelumnya, produk pertambangan yang mengalami kenaikan pada periode Januari 2020 adalah konsentrat tembaga. Nilai ini untuk tembaga kadar Cu>= 15 persen dengan harga rata-rata US$ 2.364,17/WE atau mengalami peningkatan sebesar 0,49 persen.

Kemudian ada konsentrat besi (hematit, magnetit) kadar Fe>= 62 persen dan <= 1 persen TiO2 dengan harga rata-rata US$ 75,19/WE. Konsentrat besi laterit (gutit, hematit, magnetit) dengan kadar Fe>= 50 persen. Sementara, A12O3 + SiO2>= 10 persen dengan harga mencapai US$ 38,42 per WE atau meningkat sebesar 7,34 persen.

Adapula produk, yang mengalami penurunan jika dibandingkan dengan HPE periode sebelumnya. Produk tersebut adalah konsentrat mangan kadar Mn >= 49 persen dengan harga US$ 180,2/WE atau mengalami penurunan sekitar 9,72 persen.

Tak ketinggalan konsentrat timbal kadar Pb >= 56 persen dengan harga rata-rata mencapai US$ 787,36/WE atau menyusut sebanyak 10,79 persen. Konsentrat seng kadar Zn >= 51 persen juga mengalami penurunan sekitar 13,1 persen dengan harga rata-rata US$ 569,70/WE.

Demikian informasi seputar harga tembaga yang mungkin berguna bagi Anda. Seperti yang telah kita ketahui, tembaga memiliki banyak sekali kegunaan. Tentunya hal ini memengaruhi nilai jualnya di pasaran, seperti harga untuk sebuah kerajinan tembaga asli buatan tangan. Semoga informasi ini bisa membantu Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *